Thursday, March 21, 2013


Sebusur Pelangi

Hujan yang risik
telah mengguyur kota ukir
menyambut datangnya pagi
membasahi bumi pertiwi
Awan hitam yang menggumpal
telah bergeser terpisah
angin kencang berhembus
mengiringi tetesan air.
Serentak suara guntur
terdengar cukup gaduh
tak lama kilatpun bersuara
menyambar dengan sadisnya.
Setiba jam delapan
deras hujan terhenti
atas kehendak-Nya.
Awan hitam yang mengelayut
telah pergi meninggalkan,
beralih menjadi cerah
indah dan menawan.
Goyahan angin dahsyat
yang menyentuh kulit
telah beranjak sirna
dalam jangka seketika.
Tak lama kemudian
terbentanglah sebudsur pelangi
yang menampakkan keindahan,
menghiasi langit biru
dengan warna yang seru.

Rahasia Ilahi

Hidup dan mati
telah menjadi ketentuan Ilahi
tak kan bisa terdeteksi
kapan mulai terjadi.
Batas usia insan
semuanya kan berjalan
sesuai ketetapan.
Nikahnya kita dengan siapa
tergantung pilihan pencipta
banyaknya anak yang kita punya
terserah yang mencipta.
Jumlah rizki yang diterima
menjadi ketentuan yang nyata
amal apa yang kita rasa
menjadi kehendak penguasa.
Celakakah kita
atau bahagianya kita
adalah urusan Tuhan kita
Semua yang terurai
adalah rahasia Ilahi
semua kan sulit diketahui
jika belum dikehendaki.


Seberkas Cahaya Putih

Ditengah malam yang sepi
kuberanjak seorang diri
bangkit dari mimpi
menuju tempat bersuci
Kusempurnakan wudluku
sesuai aturan yang berlaku,
mengais ridho Ilahi
di puncak malam yang sunyi.
Kuhadapkan diri
penuh ta'dzim pada Ilahi
kutelusuri perjalanan sholat
hingga pada titik akhir.
Kulapisi lisan
dengan lantunan ayat Qur'an.
Perlahan kuhayati
penuh kefokusan diri,
kutelusuri ajaran yang tersirat
dan menuangkannya dalam hati.
Nampak dari kejauhan
seberkas cahaya putih
memancarkan keelokkan
berjalan tanpa henti
mencoba mendekati.
Seberkas cahaya putih
lalupun merasuk dalam hatiku
menyinari dengan penuh
menenangkan hatiku.
Kala seberkas cahaya putih
telah menyelinap hatiku
seakan pikiranku penuh insiprasi
kebulatan masalahku
serentak mulai terpecahkan
kejenuhan yang mengerutu
telah sirna dari qalbuku.






No comments:

Post a Comment